(1839 total kata pada text ini)
Oleh Lukito Edi Nugroho <l.nugroho@computer.org>
Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan ini berlaku pula bagi Linux di lingkungan perguruan tinggi bidang informatika Indonesia. Padahal banyak sekali yang ditawarkan oleh Linux untuk para dosen dan mahasiswa yang berkecimpung dalam bidang ini. Artikel ini mencoba memberikan gambaran arah-arah pemanfaatan Linux, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Secara garis besar, kontribusi Linux di lingkungan universitas bisa digolongkan menjadi 3 kelompok: kontribusi langsung, kontribusi dukungan, dan kontribusi tidak langsung. Kontribusi langsung berkaitan dengan penggunaan Linux sebagai sistem operasi. Kontribusi dukungan berkaitan dengan Linux sebagai pendukung berbagai kegiatan komputerisasi: komputasi administratif, komputasi akademis, komputasi berbagai jenis layanan, dan sebagainya. Yang
terakhir, kontribusi tidak langsung berasal implikasi-implikasi yang muncul dari sejarah
dan sifat Linux itu sendiri.
Kontribusi Langsung
Sebagai sebuah sistem operasi, Linux adalah sistem operasi yang siap pakai. Linux bersifat multi-user dan multi-tasking, dan tidak membutuhkan software tambahan apapun untuk menggunakannya secara sendirian atau bersama-sama pemakai lain, di komputer stand-alone ataupun di komputer yang terhubung jaringan. Selain itu, Linux biasanya didistribusikan dalam
sebuah paket (sering disebut dengan distribusi atau distro) bersama-sama dengan puluhan atau bahkan ratusan software untuk berbagai macam keperluan. Pendekatan 'gado-gado' ini membawa dampak langsung pada aspek biaya. Solusi software untuk berbagai masalah dapat diperoleh dengan beberapa puluh ribu rupiah saja. Hal ini tentunya sangat bermanfaat bagi institusi pendidikan, karena pada umumnya mereka mengalami keterbatasan dana untuk membeli perlengkapan infrastrukturnya.
Sebagai sebuah sistem operasi, Linux adalah sistem operasi yang siap pakai. Linux bersifat multi-user dan multi-tasking, dan tidak membutuhkan software tambahan apapun untuk menggunakannya secara sendirian atau bersama-sama pemakai lain, di komputer stand-alone ataupun di komputer yang terhubung jaringan. Selain itu, Linux biasanya didistribusikan dalam
sebuah paket (sering disebut dengan distribusi atau distro) bersama-sama dengan puluhan atau bahkan ratusan software untuk berbagai macam keperluan. Pendekatan 'gado-gado' ini membawa dampak langsung pada aspek biaya. Solusi software untuk berbagai masalah dapat diperoleh dengan beberapa puluh ribu rupiah saja. Hal ini tentunya sangat bermanfaat bagi institusi pendidikan, karena pada umumnya mereka mengalami keterbatasan dana untuk membeli perlengkapan infrastrukturnya.
Linux adalah sebuah sistem operasi yang handal. Karakteristik teknisnya yang mencerminkan 'bagaimana sebuah sistem operasi seharusnya dibuat' menjadikan Linux sebuah obyek yang menarik untuk dipelajari secara akademis. Mata kuliah Sistem Operasi misalnya, bisa menjadikan arsitektur dan desain Linux sebagai topik utama silabusnya. Kehandalan dan berbagai
kemampuan Linux juga bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan konsep-konsep tentang sistem operasi, jaringan komputer, dan sebagainya. Praktikum jaringan komputer adalah salah satu contoh mata praktikum yang bisa mewadahinya.
Kontribusi Dukungan
Tidak berbeda dengan sistem operasi lainnya, Linux juga mendukung berbagai jenis komputasi. Kuncinya bukan terletak pada Linuxnya sendiri, tetapi justru pada ketersediaan program aplikasi yang berjalan di atasnya. Jika kita lihat situs-situs web Linux seperti Freshmeat (http://freshmeat.net), nampak bahwa aplikasi untuk Linux tumbuh dengan kecepatan tinggi. Belum lagi kalau kita membaca press release dari perusahaan-perusahaan terkemuka semacam Corel, Sun, Oracle, dan sebagainya yang sudah melakukan porting beberapa produk mereka ke platform Linux.
Di bidang pendidikan informatika, Linux telah dapat memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan-kegiatan akademis maupun administratif. Kalau dulu orang sering melecehkan Linux karena tidak memiliki software office yang memadai, sekarang tidak lagi, dengan munculnya StarOffice, Corel WordPerfect, dan Applixware. Dua paket yang pertama bahkan (sampai saat ini) bisa di-download secara gratis (http://www.sun.com/products/staroffice/ dan http://linux.corel.com/ products/linuxproducts_wp8.htm).
Tidak berbeda dengan sistem operasi lainnya, Linux juga mendukung berbagai jenis komputasi. Kuncinya bukan terletak pada Linuxnya sendiri, tetapi justru pada ketersediaan program aplikasi yang berjalan di atasnya. Jika kita lihat situs-situs web Linux seperti Freshmeat (http://freshmeat.net), nampak bahwa aplikasi untuk Linux tumbuh dengan kecepatan tinggi. Belum lagi kalau kita membaca press release dari perusahaan-perusahaan terkemuka semacam Corel, Sun, Oracle, dan sebagainya yang sudah melakukan porting beberapa produk mereka ke platform Linux.
Di bidang pendidikan informatika, Linux telah dapat memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan-kegiatan akademis maupun administratif. Kalau dulu orang sering melecehkan Linux karena tidak memiliki software office yang memadai, sekarang tidak lagi, dengan munculnya StarOffice, Corel WordPerfect, dan Applixware. Dua paket yang pertama bahkan (sampai saat ini) bisa di-download secara gratis (http://www.sun.com/products/staroffice/ dan http://linux.corel.com/ products/linuxproducts_wp8.htm).
Dalam bidang pemrograman, Linux mendukung banyak bahasa pemrograman, baik yang bersifat populer seperti C/C++, Pascal, Basic, Fortran, dan Java, atau bahasa-bahasa yang hanya umum dipakai di dunia akademis seperti Eiffel, Smalltalk, atau Prolog. Belum lagi bahasa-bahasa script yang sangat populer di dunia Unix seperti Perl dan Tcl/Tk. Di lingkungan Linux, pemrograman menjadi salah satu primadona. Hal ini ditandai dengan banyaknya tools yang tersedia, di antaranya untuk memeriksa ketergantungan modul program (make), manajemen versi (RVS, CVS), dan "menambal" program untuk penyempurnaan atau koreksi kesalahan (patch).
Daftar aplikasi Linux di atas masih dapat diperpanjang untuk bidang-bidang lain seperti basis data, manajemen jaringan, atau bidang-bidang khusus sains dan keteknikan seperti
simulasi, pengolahan sinyal, komputasi simbolis, dan sebagainya. Mata kuliah-mata kuliah
yang berhubungan dengan bidang tersebut tentu saja dapat memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang tersedia. Sebagian contoh penggunaan aplikasi Linux di lingkungan perguruan tinggi informatika dapat dilihat di . Situs-situs seperti Freshmeat atau Linux Applications () merupakan tempat yang baik untuk memulai pencarian aplikasi-aplikasi Linux tersebut. Seperti kata iklan: "Anda sebutkan, kami sediakan...dengan gratis."
Kontribusi Tidak Langsung
Dipandang dari sisi material, pemanfaatan Linux memang cukup membantu dalam menyediakan solusi berbiaya rendah tanpa mengurangi kualitas. Meskipun demikian, pengaruhnya dalam konteks pendidikan hanyalah sebatas memberikan sarana, dan belum membentuk sisi mental dari objek pendidikan itu sendiri - yaitu mahasiswa - dalam menyikapi perkembangan teknologi informatika yang begitu pesat. Kontribusi Linux pada aspek ini bersifat tidak langsung, dan tidak terlepas dari sifat Linux dan lingkungan serta suasana pengembangannya.
Linux adalah produk yang terbuka. Lisensinya menganut model open source, yang intinya setiap orang bebas melihat, mempelajari, bahkan mengubah kode program. Model ini memungkinkan Linux dikembangkan secara terbuka dan bersama-sama. Model pengembangan software seperti ini memiliki karakteristik yang khas. Menurut Eric Raymond dalam tulisannya Cathedral and the Bazaar (http://www.tuxedo.org/~esr/writings/cathedral-bazaar), salah satu fenomena yang menarik dalam komunitas pemrogram yang terbuka ini adalah adanya mekanisme peer review. Jika seorang pemrogram mengeluarkan produknya ke komunitas, maka produk tersebut akan diamati dan dipelajari oleh banyak pemrogram lainnya untuk menghasilkan versi berikutnya yang lebih sempurna.
Dalam dunia pendidikan, suasana keterbukaan ini dapat diciptakan dalam lingkungan kecil. Ada beberapa keuntungan yang bisa dicapai. Pertama, melatih mahasiswa dan dosen
untuk bekerja dalam tim. Sebuah proyek software, misalkan tugas mata kuliah, dapat dikerjakan oleh beberapa orang mahasiswa. Prosesnya dikerjakan secara terbuka, tiap release dilemparkan ke forum untuk dievaluasi bersama-sama. Keuntungan kedua, seorang mahasiswa dapat belajar dari orang lain melalui masukan yang diterimanya. Jika dilaksanakan secara kolektif, proses ?belajar bersama? ini merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan para mahasiswa dalam membuat program-program yang bermanfaat, handal, dan efisien. Keuntungan ketiga, menumbuhkan semangat untuk berkarya. Antusiasme untuk membuat program akan muncul karena ada kepastian bahwa hasil karyanya akan diperhatikan, diakui, dan digunakan. Pada akhirnya, di sisi sang mahasiswa akan muncul kesadaran untuk melakukan hal yang sama: menghargai karya orang lain. Bajak-membajak software menjadi tabu baginya.
Linux adalah produk yang terbuka. Lisensinya menganut model open source, yang intinya setiap orang bebas melihat, mempelajari, bahkan mengubah kode program. Model ini memungkinkan Linux dikembangkan secara terbuka dan bersama-sama. Model pengembangan software seperti ini memiliki karakteristik yang khas. Menurut Eric Raymond dalam tulisannya Cathedral and the Bazaar (http://www.tuxedo.org/~esr/writings/cathedral-bazaar), salah satu fenomena yang menarik dalam komunitas pemrogram yang terbuka ini adalah adanya mekanisme peer review. Jika seorang pemrogram mengeluarkan produknya ke komunitas, maka produk tersebut akan diamati dan dipelajari oleh banyak pemrogram lainnya untuk menghasilkan versi berikutnya yang lebih sempurna.
Dalam dunia pendidikan, suasana keterbukaan ini dapat diciptakan dalam lingkungan kecil. Ada beberapa keuntungan yang bisa dicapai. Pertama, melatih mahasiswa dan dosen
untuk bekerja dalam tim. Sebuah proyek software, misalkan tugas mata kuliah, dapat dikerjakan oleh beberapa orang mahasiswa. Prosesnya dikerjakan secara terbuka, tiap release dilemparkan ke forum untuk dievaluasi bersama-sama. Keuntungan kedua, seorang mahasiswa dapat belajar dari orang lain melalui masukan yang diterimanya. Jika dilaksanakan secara kolektif, proses ?belajar bersama? ini merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan para mahasiswa dalam membuat program-program yang bermanfaat, handal, dan efisien. Keuntungan ketiga, menumbuhkan semangat untuk berkarya. Antusiasme untuk membuat program akan muncul karena ada kepastian bahwa hasil karyanya akan diperhatikan, diakui, dan digunakan. Pada akhirnya, di sisi sang mahasiswa akan muncul kesadaran untuk melakukan hal yang sama: menghargai karya orang lain. Bajak-membajak software menjadi tabu baginya.
Seiring dengan berkembangnya iklim keterbukaan dalam pengembangan software, akan
tumbuh pula tradisi untuk ?memberikan sesuatu kepada orang lain? (gift culture). Seorang pemrogram akan merasa senang bila hasil karyanya digunakan orang lain, meskipun ia tidak mendapatkan keuntungan material secara langsung untuk itu. Tradisi?suka menolong?ini perlu dikembangkan setelah sekian lama kita terkungkung dalam paradigma komersial. Ini bisa
menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran seperti: bagaimana nanti kalau program saya dibajak orang lain?, rugi dong...susah-susah bikin program, orang lain memakainya dengan gratis..., dan sebagainya. Bila dikembangkan dari lingkup kecil dan dipupuk dengan baik, rasanya tradisi ini akan sangat membantu masyarakat informatika Indonesia dalam usaha mengejar ketertinggalannya.
Open Source di Perguruan Tinggi Informatika
Penerapan open source di lingkungan perguruan tinggi informatika membawa konsekuensi yang mungkin mengagetkan. Ini tidak mudah, karena menyangkut perubahan paradigma berpikir dan menyikapi aktivitas pengembangan software. Dibutuhkan partisipasi tidak hanya dari mahasiswa, tetapi juga dosen maupun birokrat institusi pendidikan tersebut. Partisipasi menyeluruh diperlukan karena kita ingin melakukan simulasi atas suasana open source di
lingkungan pendidikan. Kita harus memiliki mekanisme-mekanisme tertentu untuk mengontrolnya agar tujuan utamanya sebagai sarana pendidikan tidak terlepas.
Salah satu contoh tentang perlunya mekanisme kontrol adalah untuk mengatasi kemungkinan friksi antara aspek keterbukaan dan evaluasi mahasiswa. Dalam suasana open source
di perguruan tinggi, mungkin saja seorang mahasiswa ?melempar proses pengembangan program yang menjadi tugas akhirnya ke teman-temannya. Ketika ia menerima masukan, koreksi, atau saran, muncul pertanyaan: seberapa besar kontribusi ini dibandingkan dengan hasil karya si mahasiswa? Bagaimanapun juga evaluasi terhadap si mahasiswa mensyaratkan bahwa dialah yang mengerjakan sebagian besar dari program tersebut. Di sini muncul kebutuhan akan proses pengawasan yang baik. Dosen pembimbing diminta melakukan tugasnya untuk betul-betul mengawasi proses pengerjaan tugas akhir tersebut. Selain itu, mungkin diperlukan pula semacam koordinator untuk memfasilitasi diskusi-diskusi yang membahas sebuah software, menyediakan sarana komputasi, dan sebagainya.
Mengimplementasikan suasana open source di lingkungan perguruan tinggi memang tidak mudah. Ada cukup banyak kendala yang harus dihadapi, tapi juga ada peluang dan faktor-faktor pendorong yang bisa dimanfaatkan. Kegagalan dapat mengakibatkan proses evaluasi menjadi tidak valid, dan kualitas hasil (lulusan) menjadi tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya bila berhasil, para lulusan akan menjadi manusia informatika yang terlatih untuk bekerja dalam tim, dalam lingkungan keterbukaan di mana kualitas menjadi tujuan utama, bisa menghargai karya orang lain, serta tidak egois. Secara institusional, pihak fakultas atau jurusan pun akan mendapat keuntungan. Pengakuan sebagai institusi yang bisa menghasilkan produk-produk yang berkualitas, baik lulusan maupun software, lebih dari cukup untuk bisa tetap berbicara dalam era teknologi informatika yang begitu pesat berkembang ini. Analisis tentang masalah ini akan diungkapkan dalam tulisan yang lain.