
Linux Mengagetkan banyak Orang
Oleh Rusmanto Maryanto
Ketika ada kabar bahwa pembuatan film Titanic menggunakan Linux, banyak orang yang kaget dan bertanya, "Kok bisa, memang Linux itu program apa?" Ketika seorang teman pergi ke toko CD mencari Linux, si pemilik toko bertanya, "Linux itu game baru, ya?" Kami ikut kaget,
ketika majalah InfoLINUX perdana beredar, ada pengecer majalah bertanya, "Linux itu barang apa sih, kok majalahnya laku?"
Saya juga kaget ketika membaca artikel di Internet (www.thestandard.com) tentang keseriusan si "Raksasa Biru" IBM untuk mendukung Linux secara total. IBM akan mengalokasikan dana US$ 1 milyar atau hampir Rp 10 triliun di tahun 2001 ini untuk penelitian, pengembangan,
dan pemasaran produk dan jasa berbasis Linux ke seluruh dunia.
Dalam artikel yang ditulis Elinor Abreu itu, saya juga menangkap suatu cerita yang menarik. Dua tahun lalu CEO IBM, Louis Gerstner, juga kaget ketika membaca berita di New York Times bahwa seorang developer IBM telah merilis program email bernama SecureMailer yang open source seperti Linux. Ia ingin tahu apa yang mesti dilakukan perusahaan untuk merespon perkembangan popularitas software open source. Ternyata, para eksekutif IBM tidak ingin mengulang kesalahan masa lalu, yaitu ketika IBM berhasil membangun paradigma PC di awal 80-an, tapi IBM saat itu malah terlalu fokus pada mainframe. Kini dan di masa depan, Linux akan jalan di setiap komputer yang diproduksi
IBM, mulai dari yang berukuran jam-tangan hingga mainframe. Artinya, kini Linux tidak lagi bisa dianggap hanya sebagai barang mainan atau software yang hanya digunakan sambil lalu. Linux sudah siap untuk berbagai kegiatan bisnis. Selain IBM, perusahaan software besar lainnya, seperti Oracle (www.oracle.com), juga sudah membuat produknya bisa jalan di Linux, meskipun bukan open source.
Bagaimana Indonesia? Dengan kondisi ekonomi yang belum menggembirakan seperti sekarang ini, Indonesia bisa memanfaatkan software yang
sepenuhnya gratis dan open source. Berapa dana yang mesti dikeluarkan bila mau mengetik laporan dan membuat spredsheet saja harus membeli software seharga jutaan rupiah? Padahal, sudah tersedia banyak aplikasi yang gratis dengan kemampuan setara dengan yang komersial. Untuk keperluan kantor sehari-hari, ada StarOffice dan KOffice yang menyerupai MS Office. Untuk database pada sistem informasi yang lebih kompleks, tersedia PostgreSQl yang setara dengan DB2 dari IBM atau Oracle. Untuk keperluan warnet atau intranet juga telah tersedia aplikasinya dalam sebuah CD Linux. Dan itu semua bisa digandakan secara legal dan murah di Indonesia, bahkan dengan tampilan berornamen Indonesia serta berpanduan bahasa Indonesia.
Bersamaan terbitnya InfoLINUX edisi 2 ini, beredar pula CD Linux "versi" Indonesia yang pertama, Trustix Merdeka, yang mudah-mudahan membuat kita tidak hanya bisa kaget saja :-)
Rusmanto Maryanto, Pemimpin Redaksi InfoLINUX, bisa dikontak melalui e-mail rus@infolinux.co.id.
|
|