Needs translation <b>[** Selamat Datang di **]</b> InfoLINUX

    Monthly Printed Linux Magazine : Home | Edisi Online | FAQ's |
 
Menu Utama
  • Home
  • Edisi Online
  • Milist Pembaca
  • Download
  • Ads Info
  • Agustus 2009



    Buku Baru
  • Hot ! Hot !













  • We Support IGOS Summit 2







  • Berlangganan ?
  • Home Delivery (new)
  • Tentang Kami
  • Pedoman Menulis Artikel


  • FAQ
  • Acara
    Seminar/Pameran

    Thursday, 26 August 2010


    Dari Dapur Trustix Merdeka
    (1815 total kata pada text ini)
    Cetak Artikel ini



    Sedikit banyak hasil karya Tim Developer Indonesia, Trustix Merdeka (TM), boleh menjadikan Tim Trustix khususnya dan masyarakat TI Indonesia secara umum berbangga, karena TM merupakan distribusi pertama yang dikembangkan di Indonesia. Ini bisa menjadi awal kontribusi Indonesia di bidang TI. Karena ketika TM sudah memberikan fitur menu dan help yang berbahasa Indonesia, maka TM bisa disebarkan secara masal dan free. Lebih lagi sifat open source yang memancing penggunanya lebih kreatif. Pihak Trustix optimis bahwa jika TM banyak dipakai, akan lebih mendorong penggunaan teknologi informasi secara lebih luas.

    Distribusi Trustix Merdeka (TM) merupakan distribusi Linux yang dikembangkan dan dipaket oleh developer Indonesia dengan beberapa catatan:

  • TM menekankan pada desktop, dengan pendekatan lebih ke pengguna (dalam arti setiap pengembangan tergantung banyak kepada masukan pengguna). TM difokuskan pada pengguna Indonesia (meskipun banyak aplikasinya modular untuk diterjemahkan ke bahasa lain). Interface dan penyusunannya ditujukan untuk pengguna Indonesia.
  • Kanal Informasi. TM berisi kumpulan artikel tentang Linux, dan membuka siapapun yang ingin berkontribusi. Ini menjembatani kesulitan informasi lewat Internet.
  • Wadah programmer open source. Tiap programmer di Indonesia dapat menyertakan program buatannya, dan didistribusikan secara masal bersama TM. Perbandingan distribusi-distribusi keluaran Trustix: TM khusus untuk desktop, tidak ada aplikasi server, didevelop di Indonesia.GPL TSLkhusus untuk server, tidak ada GUI, dan didevelop di Norwegia.GPL XSentryfirewal di atas Linux, komersial, didevelop bersama (Indonesia dan Norwegia).XPloyaplikasi remote manajemen untuk Linux, komersial, didevelop bersama.

    Sejarah

    Ide awal peluncuran TM adalah karena pada saat memasarkan TSL (yang dikhususkan untuk server tanpa GUI) banyak yang menanyakan versi GUI untuk desktop. Sehingga pada saat itu mulai dicoba pemaketan awal dan dipergunakan saat Training Linux di Depnaker (awal Agustus 2000). Kemudian pada 7-9 Oktober 2000 dilakukan sosialisasi awal Trustix Merdeka di BaliCamp Bedugul, Bali, Universitas Udayana, STIKOM Surabaya, dan Hotel Radisson, 21 Oktober 2000 sosialisasi ke dua melalui kuliah umum yang diadakan di Universitas Gunadarma, dengan topik "Membangun TI Mandiri lewat Open Source", dan kemudian dilanjutkan dengan serangkaian kegiatan-kegiatan presentasi, sosialisasi, dan seminar yang masih akan terus berlanjut.

    Persiapan Peluncuran Trustix Merdeka

    Persiapan peluncuran TM memakan waktu sekitar 5 bulan terhitung dari pertengahan Juli, hingga peluncuran full feature Januari 2001 ini. Adapun bahasa pemrograman yang digunakan untuk mengembangkannya adalah Bahasa C, C++, Corba, Java, Python (bahasa ini tidak digunakan spesifik untuk TM, tetapi juga untuk produk-produk TM lainnya).

    Tim Developer Trustix Merdeka

    Tim Trustix menjelaskan bahwa pada prinsipnya, seluruh developer di Trustix ikut terlibat. Rinciannya berdasarkan urutan abjad :

    Tim Developer meliputi Ahmad Sofyan (pemaketan aplikasi, koord), Alvin Arrazy (desain grafis), Anis Hariri (infrastruktur), Ferdy Ramdhon Nizar (Installer), Fery Soswanto (dokumentasi), Haris Fauzi (Kernel), Jati Setiawan (KDE2, Sekuriti), dan Tedi Heriyanto (artikel).

    Tim Advisory Board meliputi Erniyanti H, I Made Wiryana, I Wayan S. Wicaksana, Riza Achrullah. Dan satu lagi advisor yang terlibat di awal penyusunan TM adalah Bobby Nazief.

    Manajemen Keuangan Trustix Merdeka

    TM disebarluaskan secara masal dan free. Untuk menangani managemen keuangannya, pihak Trustix memiliki rencana untuk mengembangkan modul/aplikasi untuk melengkapi TM, namun tidak gratis. Diharapkan modul-modul inilah yang nanti akan menghidupi proses perkembangan TM selanjutnya.

    Prospek Perkembangan Trustix Merdeka

    Meskipun disain TM memang dikhususkan bagi pengguna Linux di Indonesia, adalah tidak mustahil adanya pengguna Linux yang bukan berasal dari Indonesia dan tidak bisa berbahasa Indonesia tertarik dengan fitur-fitur yang terdapat pada TM. Untuk itu, sebagai pimpinan proyek development TM, Sofyan menjelaskan bahwa banyak aplikasi di TM yang bersifat modular dan mengikuti standar i18n, sehingga tidak menjadi masalah jika pengguna Linux lainnya ingin melakukan translasi. Secara default yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan Inggris. Sebagai tambahan, Riza Achrullah, GM Trustix Asia menekankan bahwa meskipun Trustix Merdeka dimulai di Indonesia, namun tidak dibuat spesifik untuk Indonesia. Disain Trustix Merdeka dapat menampung pengembangan bahasa lainnya juga, karena memang direncanakan menjadi distribusi desktop global yang paling aman.

    Fitur Trustix Merdeka yang Akan Datang

    Dengan berangkat dari fakta bahwa sasaran TM adalah Desktop rumah dan Laptop, beberapa catatan untuk fitur di depan adalah semua help berbahasa Indonesia, menu berbahasa Indonesia, Encrypted File System, patch security untuk kernel, dukungan driver hardware lebih luas, dialer dengan ISP Indonesia yang preconfigured, dan skrip installer untuk digunakan di warnet Trustix Merdeka dan Keamanan TM menawarkan distribusi dengan aplikasi seminimal mungkin. Lebih sedikit aplikasi yang disertakan atau servis yang dijalankan, lebih aman. Manajeman akan lebih mudah, dan hole lebih cepat diatasi. Disamping itu, TM tidak menyertakan aplikasi server. Hole atau remote exploit biasanya dijalankan melewati aplikasi server (tidak ada FTP dan tidak ada Web Server). Mail server sedang dipertimbangkan. Yang disertakan untuk saat ini adalah lpd (untuk printing) dan Samba (untuk sharing file dalam jaringan). Namun kedua servis tersebut, secara default tidak dijalankan. Sehingga selesai instalasi, secara default aman dipakai. Sofyan mengibaratkan seperti bagaimana maling akan masuk jika rumahnya tidak ada pintu ataupun jendelanya? Masih terkait dengan keamanan, saat ini selesai instalasi, jika discan, yang terbuka hanya ICMP port untuk ping. Hal ini pun dipertimbangkan untuk ditutup dengan patch stealth di kernel, sehingga tidak terlihat dalam jaringan (di ping tidak membalas). Meskipun sudah diujicoba, namun tidak direncanakan untuk disertakan pada release awal. Disamping itu penggunaan encrypted file system akan mengurangi resiko pencurian data.

    TM Paranoid?

    Dengan minimalnya servis yang diinstal dengan mematikan hampir semua servis dan ada rencana untuk mematikan fasilitas ping, tim InfoLINUX sempat menanyakan apakah nantinya tidak menyulitkan manajemen jaringan dan tugas para administrator jaringan? Bahasa ekstrimnya, TM membuat komputer para pengguna aman dari serangan namun juga aman untuk menyerang ... Dengan sedikit bercanda dan promosi, Bp. Riza menjawab "Jika semuanya sudah menggunakan TSL dan TM, maka para pengguna akan aman dari serangan, aman untuk menyerang, tapi kan sasarannya sudah aman duluan :) " Tidakkah instalan servis yang seminimal mungkin ini, mengesankan bahwa pendekatan konfigurasi TM adalah paranoid? Sebagai advisor yang berada di belakang pengembangan TM, Bli Made menjelaskan bahwa dirinya termasuk yang menyarankan untuk memakai "modus paranoid". Sebab sesuai dengan teori kompleksitas.. sistem semakin banyak sub komponen maka akan semakin kompleks dan probabilitas untuk salah semakin besar. Sedangkan mengapa di "client" perlu separanoid itu? Karena client merupakan "sisi terlemah" dari mata rantai sistem. Nilai sekuriti maksimal suatu sistem adalah nilai sekuriti minimal dari komponen pembentuknya (dari teori reliabilitas). Ke"tidakamanan" sisi client saat ini makin perlu ditingkatkan. Dengan makin "lamanya" client koneksi ke Internet, sebenarnya makin rawan dirinya (dan konyolnya lagi.. banyak orang yang tidak begitu peduli).

    Research di Belakang Peluncuran Trustix Merdeka

    Pengguna di Linux awalnya "seperti" model pengguna di UNIX (pembagian yang jelas antara Sys Adm, dan End User, dan developer). Tetapi perkembangan Linux ke arah desktop, menjadikan batasan ini makin "kabur". Sehingga model pendekatan pengguna ala Unix sudah tak tepat lagi. Model pendekatan pengguna ala Windows juga tidak cocok, karena MS Windows relatif tidak memisahkan antara "admin dan pengguna" biasa (termasuk resikonya). Dari sisi aplikasi development, saat ini yang diajarkan di "Bangku kuliah" rata-rata masih menganut sistem "non user centered". Perbedaan antara pembuatan distribusi dan pembuatan sistem yang bekerja di belakang layar akan menunjukkan pendekatan mana yang tepat. Dan berangkat dari mengawinkan model "riset" dan aplikasi di dunia nyata, Bli Made dan istrinya (Ernianti Hasibuan) membantu sebagai advisory board di TM. Terutama berkaitan dengan pengguna Indonesia yang sampai saat ini relatif belum ada studi modelnya. Sehingga TM ini sendiri memberikan peluang riset akademik. Bli Made berkeyakinan bahwa hal ini merupakan suatu model yang dapat diterapkan di dunia TI Indonesia juga, yaitu dari hal yang sederhana dan aplikatif sekali, namun bisa memberikan kontribusi di dunia akademik. Dua hal ini tak perlu dipertentangkan. Penyusunan model TM beranjak dari studi ala ethnografi dan kemudian pemakaian prototipe secara teriterasi untuk mencapai produk akhir. Proses pengujian produk dan dokumentasi juga diserahkan pada end-user sejak awal, bukan pada tahapan akhir. Di Bulan Mei ini Ernianti Hasibuan akan menyampaikan paper di Seminar HCI di Bonn berkaitan dengan model pengguna ini sebagai oleh-oleh hasil evaluasi selama pre-launching TM. Banyak hasil menarik, misalnya untuk orang awam tidak ada bedanya mempelajari Linux atau Windows.. sama-sama sulit 8-(. Kemudian pengguna Indonesia yang telah mempelajari komputer rata-rata Windows minded.

    Trustix Merdeka dan OSCA

    Sebagai kalangan akademis yang sangat konsern dengan OSCA (Open Source Campus Agreement) di Indonesia, Bli Made sedikit menambahkan bahwa menurutnya TM merupakan salah satu "kit" pendukung OSCA karena bersifat GPL dan mengandung beberapa materi untuk pemakaian Linux di pendidikan (misal materi buku pelatihan dsb). Di samping Itu bisa sebagai wadah bagi mahasiswa/programmer Indonesia untuk menyebarkan karyanya yang GPL sehingga bisa digunakan oleh masyarakat Indonesia secara luas.

    Kesiapan Komunitas TI Indonesia Menuju Masyarakat Open Source

    Mengingat bahwa pada bulan Oktober 2000 yang lalu, Linux-Merdeka baru versi beta dan mencari pengguna ataupun institusi yang bersedia menggunakannya untuk mendapatkan umpan balik untuk segala yang berada pada paket Linux Merdeka, pihak InfoLINUX sempat menanyakan bagaimana antusias dan respon para pengguna Linux di Indonesia. Apakah komunitas Indonesia telah menunjukkan kesiapannya untuk mengembangkan komunitas open source? Sofyan menjelaskan bahwa respon yang ada sangat baik. Banyak sekali yang antusias. Untuk komunitas di Indonesia, mungkin baru sampai tahap sosialisasi penggunaan. Jika sudah tersosialisasikan dengan baik, otomatis akan berkembang untuk menjadi developer. Hal ini di dorong oleh sifat open source sendiri.

    Pengembangan Alternatif Distribusi Baru

    Komentar Sofyan mengenai pengalamannya mengembangkan distribusi TM bahwa mengembangkan distribusi adalah gampang-gampang sulit. Namun dari hasil sosialisasi sebelumnya, dirinya yakin bahwa banyak praktisi TI Indonesia (terutama mahasiswa) yang bisa membuat distribusi sendiri. Ia membayangkan jika tiap universitas atau perusahaan memiliki distribusi sendiri, dan disesuaikan kebutuhannya. Kebanyakan berkisar mengenai pembuatan installer, memilih kernel dan aplikasi, serta membuat program bantu. Sayangnya, menurut Bli Made, meskipun seharusnya demikian, namun sepertinya masih banyak praktisi TI belum memiliki "keteguhan dan ketabahan" hati untuk membuat distribusi. Banyak yang mengira membuat distribusi itu hanyalah pekerjaan mudah dan hanya "time consuming". Padahal setelah terjun ke dalamnya maka akan dapat terungkap beberapa hal yang menarik dan tak mudah untuk dilakukan. Seharusnya tiap Universitas bisa mengembangkan distribusinya minimal digunakan sebagai sarana proyek agar warga universitas (mahasiswanya) memiliki pengalaman nyata. Membuat distribusi ini sangat baik dan dapat menghemat waktu proses belajar (daripada mengembangkan OS dari scratch), karena kita akan belajar antara lain:

  • Memahami keinginan dan kebutuhan pengguna
  • Memahami softawre development (kapan harus feature freezing dsb)
  • Menangani pelanggan (bila ada bug, perbaikan)
  • Memahami pemasaran(pengemasan produk dsb)
  • Memahami teknis seperti kernel, sekuriti, dsb Menentukan karakteristik pengguna adalah cukup sulit, dan sebetulnya menunjukkan bahwa selalu akan ada "kesempatan" bagi distribusi baru, karena perbedaan kebutuhan tiap sekelompok pengguna. Pekerjaan ini yang sebetulnya harus menjadi fokus sebelum pembuatan suatu produk software. Dalam membuat suatu distribusi, bisa dianggap proses ini sudah memberikan hasil berupa proses belajar yang dilalui, bukan saja ketika distribusi itu "laku dijual". Bisa dibayangkan bila praktisi TI Indonesia banyak yang melakukan hal ini, tentunya Indonesia akan memiliki SDM TI yang memiliki dasar kokoh.

    Sebagai penutup, kami sampaikan salam dari pihak Trustix untuk pembaca: "Pembaca InfoLinux berarti tertarik dengan Linux, untuk itu saya ucapkan Selamat datang di dunia cyber yang sebenarnya!"
    (Riza Achrullah, General Manager Trustix Asia)

    Ayo rame-rame pake Linux, biar IT Indonesia nggak dipinggiran melulu :)
    (Ahmad Sofyan, Pimpinan Tim Developer Trustix Merdeka.)

    (Disarikan dari wawancara bersama dengan Riza Achrullah, General Manager Trustix Asia, I Made Wiryana sebagai Advisory Board Trustix Merdeka, dan Ahmad Sofyan, pimpinan proyek Trustix Merdeka.)


  • (c)2001 Pt. Infolinux Media Utama
    powered by PHPNuke