Sedikit banyak hasil karya Tim Developer Indonesia, Trustix Merdeka (TM), boleh menjadikan Tim Trustix khususnya dan masyarakat TI Indonesia secara umum berbangga, karena TM merupakan distribusi pertama yang dikembangkan di Indonesia. Ini bisa menjadi awal kontribusi Indonesia di bidang TI. Karena ketika TM sudah memberikan fitur menu dan help yang berbahasa Indonesia, maka TM bisa disebarkan secara masal dan free. Lebih lagi sifat open source yang memancing penggunanya lebih kreatif. Pihak Trustix optimis bahwa jika TM banyak dipakai, akan lebih mendorong penggunaan teknologi informasi secara lebih luas.
Distribusi Trustix Merdeka (TM) merupakan distribusi Linux yang dikembangkan dan dipaket oleh developer Indonesia dengan beberapa catatan:
Wadah programmer open source. Tiap programmer di Indonesia dapat menyertakan program buatannya, dan didistribusikan secara masal bersama TM.
Perbandingan distribusi-distribusi keluaran Trustix:
TM khusus untuk desktop, tidak ada aplikasi server, didevelop di Indonesia.GPL TSLkhusus untuk server, tidak ada GUI, dan didevelop di
Norwegia.GPL XSentryfirewal di atas Linux, komersial, didevelop bersama (Indonesia dan Norwegia).XPloyaplikasi remote manajemen untuk Linux, komersial, didevelop bersama.
Sejarah
Ide awal peluncuran TM adalah karena pada saat memasarkan TSL (yang dikhususkan untuk server tanpa GUI) banyak yang menanyakan versi GUI untuk desktop. Sehingga pada saat itu mulai dicoba pemaketan awal dan dipergunakan saat Training Linux di Depnaker (awal Agustus 2000).
Kemudian pada 7-9 Oktober 2000 dilakukan sosialisasi awal Trustix Merdeka di BaliCamp Bedugul, Bali, Universitas Udayana, STIKOM Surabaya, dan Hotel Radisson, 21 Oktober 2000 sosialisasi ke dua melalui kuliah umum yang diadakan di Universitas Gunadarma, dengan topik "Membangun TI Mandiri lewat Open Source", dan kemudian dilanjutkan dengan serangkaian kegiatan-kegiatan presentasi, sosialisasi, dan seminar yang masih akan terus berlanjut.
Persiapan Peluncuran Trustix Merdeka
Persiapan peluncuran TM memakan waktu sekitar 5 bulan terhitung dari pertengahan Juli, hingga peluncuran full feature Januari 2001 ini. Adapun bahasa pemrograman yang digunakan untuk mengembangkannya adalah Bahasa C, C++, Corba, Java, Python (bahasa ini tidak digunakan
spesifik untuk TM, tetapi juga untuk produk-produk TM lainnya).
Tim Developer Trustix Merdeka
Tim Trustix menjelaskan bahwa pada prinsipnya, seluruh developer di Trustix ikut terlibat. Rinciannya berdasarkan urutan abjad :
Tim Developer meliputi Ahmad Sofyan (pemaketan aplikasi, koord), Alvin Arrazy (desain grafis), Anis Hariri (infrastruktur), Ferdy Ramdhon Nizar (Installer), Fery Soswanto (dokumentasi), Haris Fauzi (Kernel), Jati Setiawan (KDE2, Sekuriti), dan Tedi Heriyanto (artikel).
Tim Advisory Board meliputi Erniyanti H, I Made Wiryana, I Wayan S. Wicaksana, Riza Achrullah. Dan satu lagi advisor yang terlibat di awal penyusunan TM adalah Bobby Nazief.
Manajemen Keuangan Trustix Merdeka
TM disebarluaskan secara masal dan free. Untuk menangani managemen keuangannya, pihak Trustix memiliki rencana untuk mengembangkan modul/aplikasi untuk melengkapi TM, namun tidak gratis. Diharapkan modul-modul inilah yang nanti akan menghidupi proses perkembangan TM selanjutnya.
Prospek Perkembangan Trustix Merdeka
Meskipun disain TM memang dikhususkan bagi pengguna Linux di Indonesia, adalah tidak mustahil adanya pengguna Linux yang bukan berasal
dari Indonesia dan tidak bisa berbahasa Indonesia tertarik dengan fitur-fitur yang terdapat pada TM. Untuk itu, sebagai pimpinan proyek development TM, Sofyan menjelaskan bahwa banyak aplikasi di TM yang bersifat modular dan mengikuti standar i18n, sehingga tidak menjadi masalah jika pengguna Linux lainnya ingin melakukan translasi. Secara default yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan Inggris.
Sebagai tambahan, Riza Achrullah, GM Trustix Asia menekankan bahwa meskipun Trustix Merdeka dimulai di Indonesia, namun tidak dibuat spesifik untuk Indonesia. Disain Trustix Merdeka dapat menampung pengembangan bahasa lainnya juga, karena memang direncanakan menjadi distribusi desktop global yang paling aman.
Fitur Trustix Merdeka yang Akan Datang
Dengan berangkat dari fakta bahwa sasaran TM adalah Desktop rumah dan Laptop, beberapa catatan untuk fitur di depan adalah semua help berbahasa Indonesia, menu berbahasa Indonesia, Encrypted File System, patch security untuk kernel, dukungan driver hardware lebih luas,
dialer dengan ISP Indonesia yang preconfigured, dan skrip installer untuk digunakan di warnet
Trustix Merdeka dan Keamanan
TM menawarkan distribusi dengan aplikasi seminimal mungkin. Lebih sedikit aplikasi yang disertakan atau servis yang dijalankan, lebih aman. Manajeman akan lebih mudah, dan hole lebih cepat diatasi. Disamping itu, TM tidak menyertakan aplikasi server. Hole atau remote exploit biasanya dijalankan melewati aplikasi server (tidak ada FTP dan tidak ada Web Server). Mail server sedang dipertimbangkan. Yang disertakan untuk saat ini adalah lpd (untuk printing) dan Samba (untuk sharing file dalam jaringan). Namun kedua servis tersebut, secara default tidak dijalankan. Sehingga selesai instalasi, secara default aman dipakai. Sofyan mengibaratkan seperti bagaimana maling akan
masuk jika rumahnya tidak ada pintu ataupun jendelanya?
Masih terkait dengan keamanan, saat ini selesai instalasi, jika discan, yang terbuka hanya ICMP port untuk ping. Hal ini pun dipertimbangkan untuk ditutup dengan patch stealth di kernel, sehingga tidak terlihat dalam jaringan (di ping tidak membalas). Meskipun sudah diujicoba, namun tidak direncanakan untuk disertakan pada release awal. Disamping itu penggunaan encrypted file system akan mengurangi resiko pencurian data.
TM Paranoid?
Dengan minimalnya servis yang diinstal dengan mematikan hampir semua servis dan ada rencana untuk mematikan fasilitas ping, tim InfoLINUX sempat menanyakan apakah nantinya tidak menyulitkan manajemen jaringan dan tugas para administrator jaringan? Bahasa ekstrimnya, TM
membuat komputer para pengguna aman dari serangan namun juga aman untuk menyerang ...
Dengan sedikit bercanda dan promosi, Bp. Riza menjawab "Jika semuanya sudah menggunakan TSL dan TM, maka para pengguna akan aman dari serangan, aman untuk menyerang, tapi kan sasarannya sudah aman duluan :) "
Tidakkah instalan servis yang seminimal mungkin ini, mengesankan bahwa pendekatan konfigurasi TM adalah paranoid?
Sebagai advisor yang berada di belakang pengembangan TM, Bli Made menjelaskan bahwa dirinya termasuk yang menyarankan untuk memakai "modus paranoid". Sebab sesuai dengan teori kompleksitas.. sistem semakin banyak sub komponen maka akan semakin kompleks dan probabilitas
untuk salah semakin besar.
Sedangkan mengapa di "client" perlu separanoid itu? Karena client merupakan "sisi terlemah" dari mata rantai sistem. Nilai sekuriti maksimal suatu sistem adalah nilai sekuriti minimal dari komponen pembentuknya (dari teori reliabilitas).
Ke"tidakamanan" sisi client saat ini makin perlu ditingkatkan. Dengan makin "lamanya" client koneksi ke Internet, sebenarnya makin rawan dirinya (dan konyolnya lagi.. banyak orang yang tidak begitu peduli).
Research di Belakang Peluncuran Trustix Merdeka
Pengguna di Linux awalnya "seperti" model pengguna di UNIX (pembagian yang jelas antara Sys Adm, dan End User, dan developer). Tetapi perkembangan Linux ke arah desktop, menjadikan batasan ini makin "kabur". Sehingga model pendekatan pengguna ala Unix sudah tak tepat lagi. Model pendekatan pengguna ala Windows juga tidak cocok, karena MS Windows relatif tidak memisahkan antara "admin dan pengguna" biasa (termasuk resikonya).
Dari sisi aplikasi development, saat ini yang diajarkan di "Bangku kuliah" rata-rata masih menganut sistem "non user centered". Perbedaan antara pembuatan distribusi dan pembuatan sistem yang bekerja di belakang layar akan menunjukkan pendekatan mana yang tepat. Dan berangkat dari mengawinkan model "riset" dan aplikasi di dunia nyata, Bli Made dan istrinya (Ernianti Hasibuan) membantu sebagai advisory
board di TM. Terutama berkaitan dengan pengguna Indonesia yang sampai saat ini relatif belum ada studi modelnya. Sehingga TM ini sendiri memberikan peluang riset akademik. Bli Made berkeyakinan bahwa hal ini merupakan suatu model yang dapat diterapkan di dunia TI Indonesia juga, yaitu dari hal yang sederhana dan aplikatif sekali, namun bisa memberikan kontribusi di dunia akademik. Dua hal ini tak perlu dipertentangkan.
Penyusunan model TM beranjak dari studi ala ethnografi dan kemudian pemakaian prototipe secara teriterasi untuk mencapai produk akhir.
Proses pengujian produk dan dokumentasi juga diserahkan pada end-user sejak awal, bukan pada tahapan akhir.
Di Bulan Mei ini Ernianti Hasibuan akan menyampaikan paper di Seminar HCI di Bonn berkaitan dengan model pengguna ini sebagai oleh-oleh hasil evaluasi selama pre-launching TM. Banyak hasil menarik, misalnya untuk orang awam tidak ada bedanya mempelajari Linux atau Windows.. sama-sama sulit 8-(. Kemudian pengguna Indonesia yang telah mempelajari komputer rata-rata Windows minded.
Trustix Merdeka dan OSCA
Sebagai kalangan akademis yang sangat konsern dengan OSCA (Open Source Campus Agreement) di Indonesia, Bli Made sedikit menambahkan bahwa menurutnya TM merupakan salah satu "kit" pendukung OSCA karena bersifat GPL dan mengandung beberapa materi untuk pemakaian Linux di
pendidikan (misal materi buku pelatihan dsb). Di samping Itu bisa sebagai wadah bagi mahasiswa/programmer Indonesia untuk menyebarkan karyanya yang GPL sehingga bisa digunakan oleh masyarakat Indonesia secara luas.
Kesiapan Komunitas TI Indonesia Menuju Masyarakat Open Source
Mengingat bahwa pada bulan Oktober 2000 yang lalu, Linux-Merdeka baru versi beta dan mencari pengguna ataupun institusi yang bersedia menggunakannya untuk mendapatkan umpan balik untuk segala yang berada pada paket Linux Merdeka, pihak InfoLINUX sempat menanyakan bagaimana antusias dan respon para pengguna Linux di Indonesia. Apakah komunitas Indonesia telah menunjukkan kesiapannya untuk mengembangkan
komunitas open source?
Sofyan menjelaskan bahwa respon yang ada sangat baik. Banyak sekali yang antusias. Untuk komunitas di Indonesia, mungkin baru sampai tahap sosialisasi penggunaan. Jika sudah tersosialisasikan dengan baik, otomatis akan berkembang untuk menjadi developer. Hal ini di dorong oleh sifat open source sendiri.
Pengembangan Alternatif Distribusi Baru
Komentar Sofyan mengenai pengalamannya mengembangkan distribusi TM bahwa mengembangkan distribusi adalah gampang-gampang sulit. Namun dari hasil sosialisasi sebelumnya, dirinya yakin bahwa banyak praktisi TI Indonesia (terutama mahasiswa) yang bisa membuat distribusi sendiri. Ia membayangkan jika tiap universitas atau perusahaan memiliki distribusi sendiri, dan disesuaikan kebutuhannya. Kebanyakan berkisar mengenai pembuatan installer, memilih kernel dan aplikasi, serta membuat program bantu.
Sayangnya, menurut Bli Made, meskipun seharusnya demikian, namun sepertinya masih banyak praktisi TI belum memiliki "keteguhan dan ketabahan" hati untuk membuat distribusi. Banyak yang mengira membuat distribusi itu hanyalah pekerjaan mudah dan hanya "time consuming". Padahal setelah terjun ke dalamnya maka akan dapat terungkap beberapa hal yang menarik dan tak mudah untuk dilakukan.
Seharusnya tiap Universitas bisa mengembangkan distribusinya minimal digunakan sebagai sarana proyek agar warga universitas (mahasiswanya) memiliki pengalaman nyata. Membuat distribusi ini sangat baik dan dapat menghemat waktu proses belajar (daripada mengembangkan OS dari scratch), karena kita akan belajar antara lain: