Needs translation <b>[** Selamat Datang di **]</b> InfoLINUX

    Monthly Printed Linux Magazine : Home | Edisi Online | FAQ's |
 
Menu Utama
  • Home
  • Edisi Online
  • Milist Pembaca
  • Download
  • Ads Info
  • Agustus 2009



    Buku Baru
  • Hot ! Hot !













  • We Support IGOS Summit 2







  • Berlangganan ?
  • Home Delivery (new)
  • Tentang Kami
  • Pedoman Menulis Artikel


  • FAQ
  • Acara
    Seminar/Pameran

    Thursday, 26 August 2010


    Migrasi ke Linux


    (623 total kata pada text ini)
    Cetak Artikel ini



    Banyak pengguna komputer yang takut akan perubahan dan cenderung menjadi melawan perubahan. Memang itu adalah sifat dasar manusia yang cenderung takut mengadaptasi perubahan baru, apalagi yang mengharuskan dirinya belajar kembali. Padahal suka atau tidak suka perubahan akan selalui mewarnai dunia komputer. Hal itu tak terlepas dari sifat pengguna komputer yang bukan sekedar konsumer tetapi prosumer. Masih teringat di benak kita pada era 80-an, hampir semua komputer personal menggunakan MS-DOS sebagai sistem operasinya. WordStar, Word Perfect atau ChiWriter sebagai pilihan aplikasi pengolah kata dan Lotus sebagai aplikasi spread sheet. Ketika MS Windows dan MS Office mulai membanjiri pasar software pada tahun 90-an, banyak pemakai WordStar yang enggan migrasi ke MS Office karena malas belajar dan alasan lainnya. Tetapi lambat laun terjadi juga perpindahan itu, dan kini orang malah cenderung menyatakan aplikasi "standard" adalah MS Office. Ini menunjukkan bahwa perubahan adalah sesuatu yang inheren dalam dunia komputer.

    Lalu muncul Linux dengan beragam aplikasinya yang handal dan (bebas, bukan sekedar gratis). Timbul kembali rasa enggan berubah dan perlawanan terhadap perubahan. Meskipun kali ini dengan alasan yang sedikit berbeda dan tidak semata-mata karena malas belajar. Beberapa hambatan ini disebabkan adalah pergeseran paradigma yang terjadi ketika diperkenalkannya Linux ke dunia TI Indonesia. Dari komunitas TI yang semula tak begitu memperhatikan masalah etika, legalitas dan SDM sekarang harus mulai memikirkan hal itu. Sudah barang tentu perubahan paradigma ini lebih membutuhkan landasan berfikir yang lebih besar dari sekedar perubahan aplikasi atau sistem operasi belaka. Berdasarkan hasil pengamatan kami di beberapa milis Linux di Indonesia, paling tidak ada empat alasan pemakai MS Windows atau Macintosh belum tertarik migrasi ke Linux. Pertama, mereka merasa cukup dengan apa yang ada sekarang. Kedua, mereka menilai pemakaian Linux tidak semudah Windows. Ketiga, di lingkungan Linux mereka belum menemukan aplikasi atau driver yang mereka miliki di MS Windows. Keempat, di Indonesia masih sedikit penyedia jasa seperti penyelenggara kursus, technical support, penjual CD, penerbit buku dan majalah yang berhubungan dengan Linux.

    Menurut kami tidak semua alasan itu tepat. Alasan pertama tidak bisa diganggu gugat bila mereka mampu membeli perangkat lunak berbasiskan MS Windows yang mahal-mahal. Walaupun kita tahu 90% dari pengguna komputer di Indonesia mendapatkan perangkat lunaknya melalui pengkopian tidak sah atau lebih dikenal dengan istilah membajak. Di lain pihak pembelian perangkat lunak secara orisinal secara makro akan memperbanyak pembelanjaan perangkat lunak di Indonesia. Tapi ini kita kembalikan kepada nurani, pertimbangan dan kesadaran masing-masing. Alasan kedua tidak sesuai dengan keadaan sekarang, karena sudah banyak distribusi Linux dan aplikasinya yang mudah diinstall dan digunakan. Masalahnya bukan mudah atau sulit, tapi familiaritas. Linux memang berbeda dengan Windows meskipun banyak juga persamaannya. Sehingga banyak pengguna yang merasa kesulitan hanya karena perbedaan kebiasaan. Ini yang sering dianggap sebagai lebih sulit padahal lebih disebabkan karena tidak biasa. Alasan ketiga bisa benar bisa salah. Salah, karena banyak aplikasi yang tersedia di Internet, yang hampir semua gratis dan bisa menjadi alternatif. Benar, karena memang ada beberapa hardware yang belum menyediakan driver untuk Linux. Namun, seiring cepatnya perkembangan Linux, driver-driver baru terus bermunculan. Bahkan dukungan terhadap perangkat keras bukan saja untuk arsitektur Intel (yang paling banyak digunakan di Indonesia) tetapi juga untuk Mac, hingga ke mainframe S/390. Sehingga bisa dikatakan dukungan perangkat keras Linux sangatlah luas dan beragam. Alasan keempat saat ini bisa dikatakan mulai terbantah, karena perusahaan yang bergerak di bidang Linux mulai tumbuh di Indonesia. Secara tidak resmi, pengguna memperoleh support dari komunitas Linux melalui banyak milis dan homepage di Internet. Alasan keempat ini di lain pihak menimbulkan peluang bagi siapa saja yang ingin maju bersama Linux. Salah satu contoh adalah terbitnya InfoLINUX yang menyediakan informasi dan CD software yang up-to-date bagi pengguna komputer di Indonesia.

    Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi praktisi TI Indonesia adalah bagaimana mentransformasikan kekurangan pengadopsian Linux menjadi suatu tantangan yang menghasilkan kesempatan di masa depan. Bukan sekedar mengikuti sesuatu yang telah siap tersedia di pasaran belaka.


    (c)2001 Pt. Infolinux Media Utama
    powered by PHPNuke