Needs translation <b>[** Selamat Datang di **]</b> InfoLINUX

    Monthly Printed Linux Magazine : Home | Edisi Online | FAQ's |
 
Menu Utama
  • Home
  • Edisi Online
  • Milist Pembaca
  • Download
  • Ads Info
  • Agustus 2009



    Buku Baru
  • Hot ! Hot !













  • We Support IGOS Summit 2







  • Berlangganan ?
  • Home Delivery (new)
  • Tentang Kami
  • Pedoman Menulis Artikel


  • FAQ
  • Acara
    Seminar/Pameran

    Thursday, 26 August 2010


    I Made Wiryana: Jangan Sinis dulu dengan Proyek Plat Merah
    (517 total kata pada text ini)
    Cetak Artikel ini



    Jangan Sinis dulu dengan Proyek Plat Merah



    Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Ristek, Kominfo dan LIPI telah memulai program Indonesia Goes Open Source disingkat IGOS [www.igos.web.id]. Sejalan dengan diluncurkannya rencana itu, telah bermunculan pula suara-suara sumbang yang khawatir bahwa itu hanyalah berhenti sebagai seremonial atau proyek jangka pendek. Wajar saja, sebab banyak proyek pemerintah yang berhenti di tingkat itu. Ada juga yang berkomentar, rekan-rekan komunitas Open Source telah bermain politik.

    Akan tetapi tidak bisa dipungkiri, aktivitas dan inisiatif pemerintah tetap dibutuhkan untuk memperluas dan mempercepat pengadopsian OSS (Open Source Software). Hanya bergantung komunitas, lembaga pendidikan atau perusahaan (bisnis) sepertinya masih sulit di Indonesia. Sebagai contoh tentang lisensi, siapa yang akan melakukan proses sosialisasi linsesi OSS ini ke kalangan pemerintah termasuk Dirjen HaKI?

    Isu tersebut sudah saya lontarkan ke komunitas lebih dari 4 tahun yang lalu. Tetapi karena memang fokus komunitas dan pelaku bisnis OSS belum ke arah sana, belum ada usaha untuk melakukan hal itu. Untungnya ada proyek pemerintah, Software RI, yang melahirkan WinBi dan Kantaya. Di dalamnya juga termasuk proses penjelasan dalam kerangka hukum Indonesia. Badan pemerintah dapat melakukan hal-hal yang memang sulit dilakukan komunitas atau tidak menjadi fokus perhatian komunitas.

    Agar memudahkan komunikasi antar tim IGOS dan komunitas dan pelaku bisnis, saya sarankan kepada tim IGOS untuk membuka hubungan yang lebih baik ke komunitas Open Source Indonesia. Tampaknya pihak tim IGOS sepakat untuk melakukan hal itu dan mengharapkan keikutsertaan pihak komunitas. Direncanakan ada situs komunitas yang dapat memberikan masukan kepada tim IGOS. Situs ini pun dikelola dan dikembangkan oleh komunitas.

    Untuk melihat kegiatan seperti apa yang dapat dilakukan IGOS, mungkin bisa kita lihat negara lain. Di Jerman kegiatan pemerintah dan Open Source dapat dikatakan melaju kencang atau paling maju. Beberapa kota telah menerapkan GNU/Linux baik untuk server maupun untuk desktop. Proyek yang terbesar adalah kota Munich dengan sekitar 14.000 desktop dan kepolisian negara bagian Niedersachsen dengan proyek NIVADIS dengan desktop sejumlah 12.000-an. Dan yang baru saja diluncurkan di Linux Tag, distro Desktop Pemerintah Jerman yang disebut proyek ERPOSS berbasiskan Debian.

    Tentu saja semua itu tidak terjadi dalam 6 bulan atau 1 tahun saja. Semuanya melalui proses yang sudah cukup panjang. Salah satu situs yang dapat dijadikan masukan dalam perkembangan pengadopsian Open Source di kalangan pemerintah adalah Bundestux [www.bundestux.de]. Di situs ini tersedia informasi tentang kegiatan-kegiatan di negara lain dalam kaitannya dengan pengadopsian Open Source. Indonesia dengan WinBI dan Kantaya-nya juga sudah pernah diberitakan. Situs ini membantu pembuat kebijakan di pemerintah untuk melakukan perbandingan dengan negara lain, dalam kaitannya dengan pengadopsian OSS.

    Kelompok akademisi pun tidak tertinggal dalam mengakselerasi pengadopsian OSS secara luas oleh pemerintah. Mungkin ini bedanya dengan akademisi di Indonesia yang masih lebih suka sebagai pengekor industri. Sekelompok mahasiswa dari Technischen Universität Berlin menerbitkan buku tahunan (Jahrebuch) tentang Open Source. Dengan tinjauan dari sisi sosiologis, politis,ekonomis dan teknologis. Buku ini tersedia bebas di situs Think Ahead [www.think-ahead.org].

    Tentu saja kita harapkan hasil IGOS ini bukan surat keputusan atau rencana-rencana yang tidak pernah dilaksanakan di lapangan. Mudah-mudahan di masa mendatang, pemerintah dapat menjadi penggerak perkembangan Open Source dan tumbuhnya industri TI berbasiskan Open Source. Sehingga makin banyak timbul perusahaan penyedia layanan perangkat lunak Open Source. Sesuai dengan kata pepatah "Ada gula ada semut", bila semakin banyak proyek pemerintah yang ditetapkan menggunakan perangkat lunak Open Source, akan semakin banyak juga para pemain Open Source di Indonesia. Kita tunggu saja gebrakan tim IGOS, tapi jangan lupa berikan masukan konstruktif kepada mereka.


    (c)2001 Pt. Infolinux Media Utama
    powered by PHPNuke