(517 total kata pada text ini)
Jangan Sinis dulu dengan Proyek Plat Merah
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Ristek,
Kominfo dan LIPI telah memulai program Indonesia
Goes Open Source disingkat IGOS [www.igos.web.id]. Sejalan
dengan diluncurkannya rencana itu, telah bermunculan pula suara-suara
sumbang yang khawatir bahwa itu hanyalah berhenti sebagai seremonial
atau proyek jangka pendek. Wajar saja, sebab banyak proyek pemerintah
yang berhenti di tingkat itu. Ada juga yang berkomentar, rekan-rekan
komunitas Open Source telah bermain politik.
Akan tetapi tidak bisa dipungkiri, aktivitas dan
inisiatif pemerintah tetap dibutuhkan untuk memperluas dan
mempercepat pengadopsian OSS (Open Source Software). Hanya bergantung
komunitas, lembaga pendidikan atau perusahaan (bisnis) sepertinya
masih sulit di Indonesia. Sebagai contoh tentang lisensi, siapa yang
akan melakukan proses sosialisasi linsesi OSS ini ke kalangan
pemerintah termasuk Dirjen HaKI?
Isu tersebut sudah saya lontarkan ke komunitas
lebih dari 4 tahun yang lalu. Tetapi karena memang fokus komunitas
dan pelaku bisnis OSS belum ke arah sana, belum ada usaha untuk
melakukan hal itu. Untungnya ada proyek pemerintah, Software RI, yang
melahirkan WinBi dan Kantaya. Di dalamnya juga termasuk proses
penjelasan dalam kerangka hukum Indonesia. Badan pemerintah dapat
melakukan hal-hal yang memang sulit dilakukan komunitas atau tidak
menjadi fokus perhatian komunitas.
Agar memudahkan komunikasi antar tim IGOS dan
komunitas dan pelaku bisnis, saya sarankan kepada tim IGOS untuk
membuka hubungan yang lebih baik ke komunitas Open Source Indonesia.
Tampaknya pihak tim IGOS sepakat untuk melakukan hal itu dan
mengharapkan keikutsertaan pihak komunitas. Direncanakan ada situs
komunitas yang dapat memberikan masukan kepada tim IGOS. Situs ini
pun dikelola dan dikembangkan oleh komunitas.
Untuk melihat kegiatan seperti apa yang dapat
dilakukan IGOS, mungkin bisa kita lihat negara lain. Di Jerman
kegiatan pemerintah dan Open Source dapat dikatakan melaju kencang
atau paling maju. Beberapa kota telah menerapkan GNU/Linux baik untuk
server maupun untuk desktop. Proyek yang terbesar adalah kota Munich
dengan sekitar 14.000 desktop dan kepolisian negara bagian
Niedersachsen dengan proyek NIVADIS dengan desktop sejumlah
12.000-an. Dan yang baru saja diluncurkan di Linux Tag, distro
Desktop Pemerintah Jerman yang disebut proyek ERPOSS
berbasiskan Debian.
Tentu saja semua itu tidak terjadi dalam 6 bulan
atau 1 tahun saja. Semuanya melalui proses yang sudah cukup panjang.
Salah satu situs yang dapat dijadikan masukan dalam perkembangan
pengadopsian Open Source di kalangan pemerintah adalah Bundestux
[www.bundestux.de]. Di situs ini tersedia informasi tentang
kegiatan-kegiatan di negara lain dalam kaitannya dengan pengadopsian
Open Source. Indonesia dengan WinBI dan Kantaya-nya juga sudah pernah
diberitakan. Situs ini membantu pembuat kebijakan di pemerintah untuk
melakukan perbandingan dengan negara lain, dalam kaitannya dengan
pengadopsian OSS.
Kelompok akademisi pun tidak tertinggal dalam
mengakselerasi pengadopsian OSS secara luas oleh pemerintah. Mungkin
ini bedanya dengan akademisi di Indonesia yang masih lebih suka
sebagai pengekor industri. Sekelompok mahasiswa dari Technischen
Universität Berlin menerbitkan buku tahunan (Jahrebuch) tentang
Open Source. Dengan tinjauan dari sisi sosiologis, politis,ekonomis
dan teknologis. Buku ini tersedia bebas di situs Think
Ahead [www.think-ahead.org].
Tentu saja kita harapkan hasil IGOS ini bukan
surat keputusan atau rencana-rencana yang tidak pernah dilaksanakan
di lapangan. Mudah-mudahan di masa mendatang, pemerintah dapat
menjadi penggerak perkembangan Open Source dan tumbuhnya industri TI
berbasiskan Open Source. Sehingga makin banyak timbul perusahaan
penyedia layanan perangkat lunak Open Source. Sesuai dengan kata
pepatah "Ada gula ada semut", bila
semakin banyak proyek pemerintah yang ditetapkan menggunakan
perangkat lunak Open Source, akan semakin banyak juga para pemain
Open Source di Indonesia. Kita tunggu saja gebrakan tim IGOS, tapi
jangan lupa berikan masukan konstruktif kepada mereka.