(555 total kata pada text ini)
Kesempatan
untuk Berkarya di Dunia Global
Penulis
berkesempatan mengunjungi pameran telekomunikasi dan komputer
terbesar di Asia Tenggara, CommunicAsia 2004, yang diselenggarakan di
Singapura bulan Juni lalu. Dari hasil pemantauan berkeliling selama 5
hari di 5 hall sebesar JHCC, dapat diambil kesimpulan bahwa tren
teknologi jaringan komputer lebih kepada sisi perawatan dan
pengendaliannya dibanding perkembangan lainnya. Karena ada tiga hal
yang merusak sistem Internet dan jaringan komputer sampai saat ini,
virus, spam, dan worm.
Virus
bekerja dengan metode-metode yang sangat canggih, seperti membuat
SMTP sendiri, sehingga mampu mengirim e-mail ke berbagai server
secara otomatis. Virus juga menyerang jaringan dengan mengirimkan
e-mail yang terus menerus dalam jumlah besar. Juga ada kejadian aneh,
dimana terjadi saling menyerang di antara virus itu sendiri, seperti
yang terjadi pada virus Beagle dan Netsky dan 1001 macam cara aneh
dari virus yang akhirnya mengganggu dan merusak bandwidth dari
jaringan Internet.
Sementara
itu, yang disebut sebagai spam atau e-mail liar sudah sejak tiga
tahun terakhir ini merusak ketenangan ber-e-mail, karena media ini
dianggap sangat tepat untuk berpromosi, menjual barang-barang yang
agak riskan dijual di toko-toko tradisional. Dalam satu hari, kita
dapat menerima spam yang jumlahnya sampai ratusan, lebih banyak dari
e-mail yang semestinya kita terima.
Spam
ini terjadi karena semakin banyaknya “pengusaha yang tidak perduli”
yang mengumpulkan alamat e-mail untuk kemudian dijual dalam bundle
ribuan sampai jutaan alamat dalam satu CD ROM. Biasanya, spam
terjadi pada user name atau nama e-mail yang umum, seperti
michael@xxxx.net.
Worm
bekerja mirip virus, yaitu merusak sistem dengan lebih drastis lagi.
Kalau virus harus diaktifkan oleh pemakainya, maka worm dapat
melipatgandakan dirinya secara otomatis tanpa campur tangan
pemakainya. Kalau dulu jenis worm hanya beberapa saja, saat ini
jumlah worm sudah betul-betul mengkhawatirkan dan merupakan musuh
jaringan komputer yang sulit dideteksi.
Yang
paling merisaukan adalah terjadinya kombinasi penularan dari
ketiganya, yang akan betul-betul merusak jaringan yang kita miliki.
Sampai 75% bandwidth jaringan Internet hilang begitu saja oleh ketiga
jenis perusak ini. Bahkan sudah banyak peranti jaringan seperti
switch atau router yang rusak karena tidak tahan bekerja dan diserang
terus menerus oleh ketiganya.
Peluang
ini dilihat perusahaan-perusahaan skala kecil yang memiliki keahlian
dalam jaringan, sehingga mereka berlomba-lomba untuk membuat peranti
atau sistem yang semakin mudah untuk mengendalikan ketiga musuh
jaringan tersebut. Perusahaan yang dimaksud kebanyakan hanya
bermodalkan otak. Dan yang lebih mengagetkan, semua peranti tersebut
dibuat dengan menggunakan Linux atau sejenisnya dalam
pengembangannya. Linux embedded merupakan pilihan dari banyak
pengembang peranti tersebut, karena sistem operasi ini memang banyak
variasinya dan mampu melakukan semua fungsi yang diinginkan.
Sebetulnya,
dengan teknik-teknik yang sudah ada, bangsa kita mampu melakukan
pengembangan terhadap satu peranti yang dapat dipakai untuk mengatasi
virus, worm maupun spam. Kesulitan yang terjadi adalah ketidakmampuan
tenaga-tenaga ahli Indonesia untuk mengubah keahliannya menjadi satu
bisnis yang konsisten. Keterbatasan dana, ketidaksabaran untuk
menekuni bisnisnya, dan kekurangan tenaga ahli merupakan tiga hal
yang menyebabkan mandegnya kemajuan pengembangan teknologi komputer
di Indonesia.
Dana
cukup sulit dicari di Indonesia, karena nilai bunga uang cukup
tinggi. Kebanyakan investor Indonesia ingin melihat satu bisnis
secara instan, langsung melihat keuntungannya. Sementara pengembangan
peranti lunak membutuhkan waktu yang lama dengan resiko terus
mengeluarkan biaya untuk tenaga ahli dan kegiatannya.
Selain
kekurangan investor, banyak tenaga ahli berkualitas pergi ke luar
negeri, sehingga yang tinggal di dalam negeri adalah tenaga ahli yang
“tanggung” dan sering kali tidak mempunyai tanggung jawab yang
tinggi. Kesempatan sudah ada di depan mata, hanya mampukan bangsa
kita memanfaatkan peluang ini?